Indonesia, Hutan, dan Manusianya
Libur panjang Natal dan tahun baru 2024 yang berlangsung di tengah puncak musim hujan, membuat saya memiliki banyak waktu untuk, membaca, merenung, dan menulis. Ditemani dengan secangkir kopi Kapal Api panas bergula _Tropicana Diabtx_ dan rebusan Edamame, saya sejak Subuh biasanya khusyu’ di meja sudut ruang keluarga, menikmati kesunyian pagi bersuhu sekitar 15-16°C sambil mencermati beraneka dinamika di dunia maya.
Dan pagi ini, entah mengapa, pikiran saya melayang ke masa kecil saat tinggal bersama orangtua nun di ujung utara pulau Sulawesi sana. Di tepi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone tepatnya. Daerah dengan ekosistem yang masuk zonasi biogeografi yang dibatasi oleh garis Wallacea, dengan flora fauna endemik nya yang unik sekali. Saya kerap jumpa dengan burung Maleo yang rasio telur dengan tubuhnya hampir 1:1, juga Babirusa, dan Anoa.
Daerah yang menurut saya indah dan kaya sekali akan berbagai potensi sumber daya alam, termasuk sumber daya alam hayati, seperti plasma nutfah dan potensi tanaman obat misalnya. Dan jangan lupa, tentu saja rempah. Pohon Pala, Myristica fragans, cengkih, sampai beraneka jenis rimpang ada di sana.
Tak heran jika bangsa Eropa yang diduga pertama kali datang dan “mengendus” potensi sumber daya hayati Nusantara pada awal abad ke 16 itu menjadi begith tergila-gila dengan eksotikanya. Sejarah mencatat Francisco Serrao adalah pelaut Portugis yang pertama kali tiba di Ternate pada tahun 1511.
Ia tergabung dalam ekspedisi yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque untuk menduduki Malaka. Dimana pada tahun 1511, Portugis berhasil menaklukkan Malaka, sebuah pelabuhan penting di Selat Malaka yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah. Kemudian selanjutnya pada tahun 1512, Portugis datang ke Maluku. Berselang 9 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1521, Spanyol muncul dari arah Filipina yang dipimpin oleh Kapten Sebastian del Cano.
Kedua bangsa Eropa yang entah berasa dilegitimasi oleh siapa, tiba-tiba merasa punya hak atas berbagai potensi sumber daya di Nusantara itu. Merekapun bertikai dan saling berebut kendali kuasa atas jalur distribusi dan sentra-sentra produksi rempah Nusantara dalam rangka menegakkan hegemoni dan supremasi dagang yang bersifat monopoli.
Untuk menghindari pertikaian tersebut, dan tidak hanya persoalan di seputar wilayah Nusantara yang baru muncul ke permukaan pada abad ke 16, Portugis dan Spanyol sampai membuat perjanjian yang seolah membagi dua dunia, seakan dunia hanya milik mereka berdua.
Perjanjian Tordesillas yang ditandatangani pada 7 Juni 1494, membagi dunia menjadi dua kawasan kekuasaan dengan garis demarkasi yang membentang dari kutub utara ke selatan melalui Kepulauan Cape Verde di barat Benua Afrika. Dimana Spanyol menguasai wilayah di sebelah barat garis, sedangkan Portugis menguasai wilayah di sebelah timur.
Lalu pada abad ke 16 dilakukan perjanjian Saragosa yang ditandatangani pada tanggal 22 April 1529. Dimana perjanjian ini membagi dunia menjadi dua kawasan kekuasaan dengan garis demarkasi yang dibatasi oleh meridian Jailolo, 19° sebelah timur kepulauan Maluku. Pada saat itu tampaknya supremasi bangsa Spanyol dan Portugis pasca penjelajahan Christoper Columbus yang “nyasar” ke benua Amerika tengah berada di puncak kesombongannya. Kalau dipikir-pikir manusiawi sih, bukankah hasrat terdasar manusia adalah melakukan manipulasi untuk keselamatan dan kepentingan diri dan kelompoknya bukan? Itu part of survival mode loh.
Kembali di Kotamobagu, daerah yang saya sebut berada di tepi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone itu, mungkin elok pula jika saya sedikit jelaskan soal apa keistimewaan Taman Nasional ini, dan juga apa itu garis Wallacea dan Weber ya?
Taman Nasional Bogani Nani Wartabone merupakan taman nasional darat terbesar di Sulawesi. Taman nasional ini merupakan gabungan dari Suaka Margasatwa Dumoga, Suaka Margasatwa Bone, dan Cagar Alam Bulawa. Luasnya mencapai 2.871,15 km², dan meliputi area dj Semenanjung Minahasa, perbatasan antara Propinsi Gorontalo dan Sulawesi Utara (Koordinat: 0°33′38″N 123°40′48″E).
Taman nasional ini didirikan pada tahun 1991 dan dikelola langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan dikenal sebagai Taman nasional yang merupakan suaka margasatwa bagi spesies-spesies endemik Sulawesi yang masuk zona Australis, jika mengacu kepada zonasi berdasar garis Wallacea.
Pembagian ekosistem di Indonesia oleh garis Wallacea dan Weber didasarkan pada perbedaan geografi dan biogeografi yang memengaruhi persebaran flora dan fauna.
– Garis Wallace: Garis ini memisahkan fauna Asia (asiatis) di bagian barat Indonesia dengan fauna peralihan di bagian tengah. Ditetapkan oleh Alfred Russel Wallace, garis ini melintasi Selat Lombok dan Selat Makassar, mencerminkan perbedaan ekosistem akibat sejarah geologi seperti paparan Sunda.
– Garis Weber: Garis ini memisahkan fauna peralihan di bagian tengah dengan fauna Australia (australis) di timur Indonesia. Max Weber menetapkannya berdasarkan kedalaman laut yang menjadi penghalang migrasi spesies, membagi wilayah paparan Sunda dan Sahul.
Garis Wallace mempengaruhi keanekaragaman hayati di Indonesia dengan membagi wilayah menjadi zona fauna Asiatis di barat, zona peralihan di tengah, dan zona Australis di timur. Garis ini mencerminkan perbedaan ekosistem akibat sejarah geologi, seperti paparan Sunda dan Sahul.
Di barat, fauna khas Asia seperti gajah dan orangutan mendominasi, sementara di timur terdapat fauna Australis seperti kanguru pohon. Wilayah peralihan, seperti Sulawesi, memiliki spesies endemik unik seperti anoa dan komodo, menciptakan keanekaragaman hayati yang tinggi dan khas.
Bagaimana kepulauan Indonesia bisa terbentuk dan memiliki karakter biogeografi atau ekoregion unik seperti itu? Untuk dapat mengetahuinya, elok jika kita ulik dari sejarah geologi pembentukannya ya.
Sruput Kapal Api dulu deh, biar bisa mikir lebih kenceng
Kita mulai perjalanan kita dari saat dimana rupa muka bumi masih sangat jauh dari gambaran kita di hari ini ya. Pada akhir Paleozoikum hingga awal Mesozoikum (sekitar 300–200 juta tahun lalu), seluruh daratan di Bumi tergabung menjadi satu superbenua yang disebut Pangea. Pangea kemudian terpecah menjadi dua blok besar: Laurasia di utara dan Gondwana di selatan.
Gondwana terdiri dari daratan yang sekarang kita kenal sebagai Amerika Selatan, Afrika, Antartika, Australia, dan India. Beberapa fragmen benua yang sekarang menjadi bagian penting dari Asia Tenggara (termasuk sebagian wilayah Indonesia) awalnya berasal dari tepian (margin) Gondwana dan mulai terlepas (rift off) di berbagai periode Mesozoikum.
Di sekitar masa Trias–Jurassic awal (250–170 juta tahun lalu), Gondwana mulai pecah. Daratan Australia dan Antartika memisahkan diri secara bertahap, sementara beberapa mikro-benua “terkoyak” dari tepi Gondwana. Mikro-benua ini kemudian “mengembara” ke arah utara, terdorong oleh penyebaran lantai samudra (sea-floor spreading) di Samudra Tethys.
Beberapa mikro-benua penting yang sekarang berasosiasi dengan wilayah Indonesia (misalnya Blok West Sulawesi, Blok East Sulawesi, Seram, serta fragmen lain di Maluku dan Papua) dulunya berawal dari margin Australia atau Gondwana yang lebih selatan. Pada era Jurassic–Cretaceous (sekitar 170–66 juta tahun lalu), fragmen-fragmen ini terus bergerak menuju Sundaland (bagian inti Asia Tenggara), di mana kemudian terjadi proses tumbukan, penunjaman (subduction), serta penyatuan (amalgamation).
Sundaland adalah gabungan daratan Asia Tenggara bagian barat (termasuk Kalimantan, sebagian besar Sumatra, Semenanjung Malaya). Dimana pada era Late Mesozoic (Cretaceous, 145–66 juta tahun lalu) hingga awal Kenozoikum (Paleogen, 66–23 juta tahun lalu), mikro-benua dari selatan (eks-Gondwana) mulai menempel di tepi Sundaland, membentuk mozaik geologi yang kompleks.
Sementara di sekitar Samudera Tethys (terutama di utara Australia), terjadi serangkaian zona subduksi yang membuat lautan Tethys semakin menyempit seiring pergerakan fragmen benua ke arah Asia. Proses inilah yang kemudian mengawali pembentukan busur kepulauan (island arcs) di selatan Asia Tenggara.
Memasuki Kenozoikum (66 juta tahun lalu hingga kini), konfigurasi regional mulai menyerupai Asia Tenggara modern. Lempeng Indo-Australia (di selatan) semakin mendesak ke utara, menumbuk Lempeng Eurasia (Sundaland) membentuk zona subduksi di selatan Sumatra–Jawa–Nusa Tenggara. Sementara lempeng Pasifik (di timur laut) juga bergerak relatif barat–barat daya, mempengaruhi kawasan timur Indonesia (Papua, Maluku).
Di barat Indonesia, subduksi Lempeng Indo-Australia membentuk Busur Sunda–Banda (Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Banda). Sedangkan di timur, interaksi antara lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik, dan mikrolempeng laut Maluku menimbulkan sistem busur ganda (Double Arc) seperti Busur Sangihe dan Busur Halmahera, serta cekungan busur belakang (back-arc basins) seperti Laut Banda.
Aktivitas vulkanisme dan tektonik yang intens memunculkan pegunungan, palung laut, cekungan sedimen, dan rentetan busur kepulauan. Di kawasan timur Indonesia seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua, serangkaian proses orogenik (pembentukan pegunungan) berlangsung hingga kini, ditandai dengan banyaknya sesar aktif dan gunung api.
Indonesia bagian barat (Sunda) sempat menjadi kelanjutan daratan Asia saat permukaan laut global turun (misalnya pada kala Pleistosen), memungkinkan migrasi fauna Asia. Sedangkan wilayah Indonesia timur terdiri atas mikro-benua dan fragmen busur kepulauan (microcontinents) yang terpisah dari Paparan Australia, sehingga membatasi masuknya fauna Australia secara menyeluruh.
Kondisi geologis dan geografis itulah yang antara lain mendorong terbentuknya zonasi ekosistem sebagaimana yang kita kenal saat ini. Tak hanya kondisi morfologi permukaan di daratan saja, melainkan juga ada faktor yang terkait dengan topografi lautan.
Celah laut dalam di Selat Makassar, Selat Lombok, Laut Flores, hingga Laut Banda, dapat menjadi penghalang migrasi fauna. Hewan darat dan tanaman cenderung sulit untuk berpindah apabila harus menyeberangi laut dalam.
Berangkat dari kondisi geologi dan geografi tersebut tercetuslah isitilah zonasi biogeografi yang dikenal sebagai garis Wallace dan Weber. Dimana _Garis Wallace_ pertama kali diusulkan oleh Alfred Russel Wallace pada abad ke-19, yang mengamati perbedaan fauna yang sangat mencolok antara Kalimantan/Bali (bagian Sunda) dengan Sulawesi/Lombok (bagian Wallacea).
Secara geologi, zona di sebelah barat garis Wallace (Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan sebagian besar Borneo) dulunya terhubung dengan Paparan Sunda (bagian dari daratan Asia), sehingga fauna di wilayah ini lebih mirip dengan Asia Daratan.
Di sisi timur, terutama Sulawesi, Maluku bagian tengah, dan Nusa Tenggara Timur, tidak pernah benar-benar tersambung ke benua Asia maupun Australia pada masa geologinya, sehingga fauna/kekayaan hayatinya lebih bervariasi dan endemik.
Sedangkan Garis Weber biasanya ditarik lebih ke timur daripada Garis Wallace, melewati bagian timur Sulawesi, Laut Banda, hingga ke utara Maluku.
Secara tektonik, cekungan-cekungan laut dalam dan pengangkatan wilayah kepulauan di timur Indonesia (misalnya Kepulauan Banda) membentuk penghalang alami bagi persebaran biota, sehingga menciptakan biogeographic barrier antara ekosistem Asia dan Australia.
Dari sejarah geologi dan pembentukan kepulauan Nusantara itu pulalah potensi sumber daya hayati Indonesia bermula. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, dengan beberapa data sebagai berikut:
– Indonesia memiliki 21 tipe ekosistem dan 75 tipe vegetasi.
– Laut Indonesia menyimpan 37% spesies sumber daya hayati dunia.
– Indonesia memiliki sekitar 2.500 jenis kupu-kupu, yang merupakan salah satu keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Di Indonesia, kupu-kupu terbagi menjadi 10 famili, dengan famili Nymphalidae yang paling banyak dan famili Riodinidae yang paling sedikit. Jenis kupu kupu fi Indonesia merupakan 10% dari jenis kupu-kupu di dunia.
– Indonesia memiliki 270 jenis mamalia, 386 jenis burung, 328 jenis reptil, 204 jenis amphibia, dan 280 jenis ikan yang merupakan fauna endemis.
– Indonesia memiliki 500 jenis alga, 595 jenis lumut kerak, 197 jenis paku-pakuan, dan 30.000-40.000 jenis flora tumbuhan berbiji.
– Indonesia memiliki ekosistem padang rumput sabana, hutan bakau, hutan hujan tropis, dan laut atau terumbu karang.
– Berdasarkan National Geographic Indonesia, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati daratan tertinggi kedua di dunia, setelah Brasil. Namun, jika keanekaragaman hayati daratan dan laut digabungkan, Indonesia menjadi negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.
Kekayaan hayati yang luar biasa di Indonesia antara lain adalah keberadaan hutan hujan tropis yang telah diakui sebagai bagian utama dari sistem paru-paru dunia. Berikut adalah data luas hutan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir:
– 2019: Luas lahan berhutan 94,1 juta hektare atau 50,1% dari total daratan.
– 2021-2022: Luas lahan berhutan 96,0 juta hektare atau 51,2% dari total daratan. _Deforestasi netto_ di Indonesia pada periode ini adalah 104 ribu hektare, turun 8,4% dibandingkan 2020-2021.
Ada pula data lain yang menyebutkan bahwa luas hutan Indonesia mencapai 125.795.306 hektare dengan panjang batas 373.828,44 kilometer. Tetapi terlepas dari akurasi kedua data di atas yang cukup berbeda secara signifikan (mungkin terkait dengan konsensus tentang indikator atau definisi hutan ya), ada hal yang perlu dicermati juga; _laju deforestasi.
Berikut adalah beberapa data terkait laju deforestasi di Indonesia; pada tahun 2021-2022, laju deforestasi di Indonesia turun 8,4% dibandingkan tahun 2020-2021. Deforestasi netto di Indonesia pada periode tersebut adalah 104 ribu hektare. Sementara laju deforestasi tertinggi di Indonesia terjadi pada periode 1996-2000, yaitu 3,5 juta hektare per tahun. Sedangkan deforestasi pada periode 2002-2014 adalah 0,75 juta hektare per tahun.
Pada tahun 2023, deforestasi di Indonesia mencapai 257.384 hektare. Wilayah yang mengalami deforestasi terbesar adalah; Kalimantan Barat, yaitu 35.162 hektare. Wilayah lainnya yang mengalami deforestasi adalah:
– Kalimantan Tengah (30.433 hektare)
– Kalimantan Timur (28.633 hektare)
– Sulawesi Tengah (16.679 hektare)
– Kalimantan Selatan (16.067 hektare)
– Kalimantan Utara (14.316 hektare)
– Riau (13.268 hektare)
Memang telah ada upaya kongkret untuk menyelaraskan kepentingan ekonomi dan kesejahteraan rakyat melalui pengusahaan hutan, dengan keberlangsungan ekosistem yang perlu dijaga kebersinambungannya. Kementerian KLHK misalnya, telah melakukan berbagai upaya untuk menekan laju deforestasi, melalui antara lain, penerapan Inpres Penghentian Pemberian Izin Baru, Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut, Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, serta Pengendalian Kerusakan Gambut.
Hutan sebagai ekosistem tentu bukan merupakan bagian yang berdiri sendiri dan terlepas secara ekslusif dari konteks peradaban. Hutan hampir dapat dipastikan bersanding dengan komunitas manusia, sebagai bagian dari diversitas hayatinya. Dan tak dapat dipungkiri, interaksi dengan manusia inilah yang pada gilirannya akan menentukan keberadaan ataupun kebestarian suatu ekosistem hutan. Karena banyak hutan yang selain diusahakan secara ekonomi, juga mengalami deforestasi untuk penyediaan habitat manusia, termasuk habitat yang terintegrasi dengan tanaman perkebunan produktif monokultur seperti kelapa sawit, teh, dan berbagai komoditas lainnya.
Struktur dan komposisi kelompok masyarakat yang berinteraksi dengan hutan juga beragam dan unik. Amat bergantung pada lokus dan budaya yang lahir dari proses interaksi manusia dengan alam tempat hidupnya. Indonesia dengan keragaman hayati dan keunikan geografis yang sedemikian rupa, juga memiliki keragaman suku bangsa yang asoy juga untuk kita pelajari pagi ini.
Sruput lagi Kapal Api, plus gigit sedikit donat kampung yang berpupur serbuk gula putih halus.
Jika melihat jumlahnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Sensus Penduduk (SP) tahun 2010, Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, tepatnya Indonesia memiliki 1.340 Suku bangsa yang tersebar di berbagai penjuru tanah air.
Suku bangsa Jawa disebut sebagai suku bangsa yang mendominasi wilayah Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Sensus Penduduk 2010, jumlah populasi Suku Jawa di Indonesia mencapai 95.217.022 jiwa. Angka ini mewakili 40,22 persen dari jumlah penduduk Indonesia.
Suku Sunda menduduki peringkat kedua sebagai suku dengan populasi terbanyak di Indonesia, yakni mencapai 36.701.670 jiwa atau setara dengan 15 persen dari total penduduk Indonesia. Kemudian, peringkat tiga adalah suku Batak yang berasal dari Sumatera Utara. Jumlah populasi suku Batak dalam data SP 2010 BPS mencapai 8.466.969 jiwa atau 3,58 persen dari total penduduk.
Suku dengan populasi terbesar keempat di Indonesia adalah suku yang berasal dari Sulawesi (gabungan dan non Bugis) dengan jumlah 7.634.262 jiwa atau 3,22 persen dari total penduduk. Kemudian, di peringkat lima besar terdapat suku Madura dengan jumlah populasi mencapai 7.179.356 jiwa atau setara dengan 3,03 persen total penduduk Indonesia.
Suku Betawi menjadi Suku bangsa dengan populasi terbanyak keenam di Indonesia dengan jumlah sebanyak 6.807.968 jiwa atau setara dengan 2,88 persen dari total penduduk Indonesia. Selanjutnya, suku Minangkabau asal Sumatra Barat yang jumlahnya mencapai 6.462.713 jiwa atau setara 2,73 persen dari total penduduk di Indonesia.
Peringkat kedelapan diisi oleh suku Bugis dengan jumlah 6.359.700 jiwa atau setara dengan 2,69 persen dari total penduduk di Indonesia. Suku Melayu menjadi peringkat kesembilan dengan jumlah mencapai 5.365.399 jiwa atau setara dengan 2,27 persen.
Suku asal Sumatra Selatan (Palembang, Komering, Lahat, dll), menduduki peringkat ke 10, yakni mencapai 5.199.581 jiwa atau setara dengan 2,16 persen total penduduk Indonesia. (Indonesiabaik.id/ https://indonesiabaik.id/infografis/sebaran-jumlah-suku-di-indonesia)
Tapi saya sendiri agak bingung dan rancu dengan kategorisasi berdasar suku tersebut. Ada pula kemungkinan data kategorisasi itu dapat terduplikasi atau tumpang tindih, karena menurut opini saya pribadi, saat ini di beberapa kelompok dan sistem masyarakat identitas kesukuan ini sudah semakin tidak relevan dengan kondisi yang menjadi kenyataan. Sudah banyak sekali terjadi proses asimilasi, dan pernikahan antar suku yang menghasilkan manusia Indonesia dengan aneka latar suku dan genetika, termasuk saya. Di mana jika saya yang disensus oleh BPS, maka saya dapat mengklaim untuk mewakili sekurangnya 3 suku besar di Indonesia.
Sementara dalam tinjauan budaya dan antropologi memang masih ada representasi suku ataupun kelompok dengan identitas budaya yang khas, dan mendiami suatu lokus geografis yang khas pula. Kelompok masyarakat ini dikenal sebagai kelompok masyarakat adat.
Dimana jumlah masyarakat adat di Indonesia diprakirakan sekitar 70 juta orang, atau sekitar 40% dari total penduduk Indonesia.
Jumlah komunitas adat di Indonesia mencapai 2.371 komunitas adat. Dimana sebaran komunitas adat terbanyak berada di Kalimantan, yaitu 772 komunitas adat. Sebaran komunitas adat kedua terbanyak berada di Sulawesi, yaitu 664 komunitas adat. Sebaran komunitas adat ketiga terbanyak berada di Sumatera, yaitu 392 komunitas adat. Sebaran komunitas adat keempat terbanyak berada di Bali dan Nusa Tenggara, yaitu 253 komunitas adat. Sebaran komunitas adat kelima terbanyak berada di Maluku, yaitu 176 komunitas adat. Sebaran komunitas adat keenam terbanyak berada di Papua, yaitu 59 komunitas adat. Sebaran komunitas adat ketujuh terbanyak berada di Jawa, yaitu 55 komunitas adat.
Mungkin angka-angka di atas juga perlu kita kritisi, karena lokus khas atau spesifik masyarakat adat di berbagai daerahpun saat ini sudah banyak yang berubah menjadi lokus atau habitat hunian yang bersifat majemuk. Hal ini tampaknya juga terkait dengan kebijakan kawasan permukiman yang tentu saja akan lebih mengedepankan fungsi dan utilitas pelayanan publik, tinimbang identitas kelompok masyarakat.
Mau nyruput Kapal Api lagi, tapi ndilalah yang kesedot serbuknya, habis sudah kopi pagi saya.
Berarti sudah cukup juga tulis-menulisnya. Lah lalu apa simpulannya? Sudah ngomong ngalor ngidul, mulai dari benua Pangea, garis Wallacea sampai masyarakat adat, terus mau diapain? Ya nggak diapa-apain, kan saya cuma mau nunjukin bahwa Indonesia itu kaya dan keren banget. Lalu PR kita bersama adalah bertindak dan memikirkan, bagaimana agar segenap potensi itu dapat berjalan dengan harmoni, selaras membangun orkestrasi yang seimbang, berkeadilan, serta berkesinambungan.
Bagaimana kita dapat menjaga hutan beserta segenap isinya, bagaimana kita bijak dalam mengeksploitasi sumber daya alam, misal Nikel untuk baterai yang katanya justru meningkatkan laju pertambangan batubara yang mendorong konversi lahan hutan beserta segenap eksesnya, juga pandai dalam mengembangkan konsep eksosistem berbasis pendekatan lingkungan yang berkesinambungan. Mampu menyerap dan mengembangkan nilai-nilai sosiokultural yang lahir dari rahim kearifan lokal, dan banyak PR lainnya yang tentu saja tidak akan sanggup saya selesaikan lewat tulisan ini bukan?
🙏🏾🙏🏾🙏🏾
Bahan Bacaan Lanjut
Hamilton, W. (1979). Tectonics of the Indonesian Region. U.S. Geological Survey Professional Paper 1078.
Hall, R. (2002). Cenozoic geological and plate tectonic evolution of SE Asia and the SW Pacific: computer-based reconstructions, model and animations. Journal of Asian Earth Sciences, 20(4–5), 353–431.
Hall, R. & Wilson, M. E. J. (2000). Neogene sutures in eastern Indonesia. Journal of Asian Earth Sciences, 18(6), 781–808.
Katili, J. A. (1975). Volcanism and plate tectonics in the Indonesian island arcs. Tectonophysics, 26(3–4), 165–188.
Hall, R., & Wilson, M. E. J. (2000). Neogene sutures in eastern Indonesia. Journal of Asian Earth Sciences, 18(6), 781–808.
Pubellier, M. & Ego, F. (2002). Surficial folds and megathrust indentation in the Molucca Sea region. Journal of Asian Earth Sciences, 20(8), 741–749.
Wallace, A. R. (1869). The Malay Archipelago: The land of the orang-utan and the bird of paradise. London: Macmillan.
Weber, M. (1902). Über den geographischen Charakter der indoaustralischen Inselwelt. Geographische Zeitschrift, 8, 1–15.
Michaux, B. (2010). Wallace, Darwin, and the Origin of the Species: The Role of Geographical Distribution in Biological Evolution. Historical Biology, 22(3), 243–264.


