Atraksi Seni di Malioboro Warnai Hari Lingkungan Hidup Sedunia
| |

Atraksi Seni di Malioboro Warnai Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Jogjakarta–Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia digelar di kawasan Jalan Malioboro Yogyakarta dengan berbagai atraksi seni Nusantara, Sabtu (29/6) malam.

Bertajuk Meramut Budaya, Meramut Semesta, aksi ini diinisiasi Aliansi Mahasiswa Nusantara bersama tokoh lintas agama yang bertujuan menjaga alam semesta sebagai salah satu aksi nyata kepedulian terhadap krisis iklim. Kegiatan yang juga menggandeng berbagai komunitas diantaranya Kembali Pulang, Tempat Pulang Foundation dan Yayasan Arra tersebut pun menjadi daya tarik wisatawan yang tengah memadati kawasan Malioboro – Titik Nol Km.

Salah satunya Tiyok Purnomo, wisatawan asal Banyuwangi Jawa Timur menyebutkan kepedulian terhadap lingkungan bisa dilakukan dengan beragam cara. Yang menarik justru kreasi para mahasiswa ini dipersembahkan kepada masyarakat luas dan wisatawan.

“Dengan seni budaya nusantara justru bisa menjadi daya tarik tersendiri. Pesannya bisa langsung sampai sekaligus untuk mengingatkan betapa penting generasi sekarang menjaga alam dan lingkungan,” jelas Tiyok.

Ketua Aliansi Mahasiswa Nusantara, Altingia Arie menyebutkan laku “Meramut Budaya, Meramut Semesta”, yang diejawantahkan oleh para mahasiswa dari berbagai daerah, pemuka agama, komunitas Teman Tuli termasuk Juru Bahasa Isyarat (JBI), komunitas lingkungan, serta masyarakat sebagai wujud cinta Tanah Air dan persatuan bangsa, untuk menjaga bumi tetap lestari, sekaligus menjadi role model masyarakat dunia dengan peduli terhadap lingkungan.

Dalam aksi ini ditampilkan tarian nusantara diiringi musik etnis, monolog, pesan moral dari para pemuka agama dan MUI DIY kepada seluruh umat agar peduli lingkungan untuk semesta lestari. Selain itu, akan menampilkan fashion berbahan eco friendly, sehingga aman untuk bumi.

“Meramut Budaya, Meramut Semesta diikuti sejumlah 150 orang peserta, dari Para Pemuka Agama, Ketua MUI DIY, Gerkatin (komunitas Teman Tuli), komunitas lingkungan,” jelasnya.

Altingia menambahkan bahwa kearifan lokal dan budaya masyarakat dalam menjaga sumberdaya alamnya menjadi pegangan bagi bangsa ini dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan. “Struggle terbesar kita adalah bagaimana menanam kepedulian ini. Karena bila rasa peduli tidak ada maka tidak akan orang mengambil aksi, dan kalau aksi tidak diambil tidak ada perubahan nyata yang terjadi”, tegas Altingia.

Para pemimpin agama menggunakan ajaran agama dan kearifan lokal dalam memengaruhi cara pikir orang melalui ajaran religius untuk peduli lingkungan.

“Salah satu tujuan kegiatan ini adalah mensosialisasikan krisis iklim kepada masyarakat secara luas untuk peduli lingkungan, terutama anak muda, karena mereka yang dapat merubah habbit-habbit mereka agar kita bisa mencapai tujuan kita dalam 20 tahun ke depan, seperti yang kita ketahui bersama pemerintah telah menetapkan program jangka Panjang blue economic roadmap 2025-2045 terkait sustainability, untuk meningkatkan Gross Domestic Product (GDP), yang menjadi indicator untuk mengukur kondisi perekonomian negara namun juga mensejahterakan masyarakat dan lingkungan”, sambung Altingia.

Senada hal itu, Founder Tempat Pulang Foundation dan Kembali Pulang, Mida mengatakan acara ini bisa membangun kesadaran lebih banyak orang lagi, bagaimana hal kecil bisa membantu menjaga lingkungan sekitar, mukai dari bijak berkonsumsi, mulai memikirkan ulang apa yang kita beli dan gunakan setiap hari.

“Jangan membeli sesuatu hanya karena lucu atau kita ingin. Keputusan kita atas apa yang kita pakai dan gunakan, bukan hanya berdampak pada diri kita, tapi juga bumi dan manusia,,“ pesan Mida,

“Hari ini adalah panggilan untuk bertindak. Mari sama-sama lakukan langkah-langkah nyata demi menjaga keindahan alam Indonesia. Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia! Ayo tanam pohon, kurangin sampah dan promosikan energi terbarukan untuk masa depan yang lebih cerah, bersih dan berkelanjutan”, kata Rahmi Y dari Yayasan Arra.

Kegiatan “Meramut Budaya, Meramut Semesta” ditutup dengan flashmob seluruh peserta dengan pengunjung dan pembagian souvenir. Pembagian souvenir kepada pengunjung, diantaranya berasal dari olah sampah plastik berupa bros sachet detergent, pembagian bibit pohon, souvenir eco friendly, dan lainnya. *

Kamu suka? Yuk bagikan tulisan ini.

Similar Posts

  • | | |

    Seni Tradisi Jathilan Putri

    Jathilan adalah seni tradisi yang telah lama dikenal masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Jathilan juga dikenal dengan nama kuda lumping, kuda kepang, ataupun jaran kepang. Kata “kuda” muncul karena karena kesenian ini dimainkan dengan menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Seiring berjalannya waktu, seni tradisi ini berkembang dan tidak…

  • |

    Maestro Pelukis Djoko Pekik Meninggal Dunia

    Pelukis asal Yogyakarta, Djoko Pekik meninggal dunia di RS Panti Rapih, Sabtu (12/8/2023). Menurut Humas RS Panti Rapih, Maria Vita, sebelumnya pelukis Djoko Pekik tiba di IGD RS Panti Rapih pukul 08.00 WIB, Sabtu (12/8) kemudian mengalami penurunan kesadaran. Djoko Pekik yang terkenal dengan lukisan Berburu Celeng itu meninggal dunia sekitar pukul 08.19 WIB. Hal…

  • |

    Menyesap Kopi Sekaligus Belajar Tari

    (Yogyakarta DIY) Belajar seni tari kini bisa dilakukan dimana saja, termasuk disebuah kedai kopi. Di Yogyakarta sebuah workshop tari bagi pengunjung maupun wisatawan yang digelar di Kumpeni Coffe & Artspace, Jumat (23/12). Penikmat kopi pun antusias mengikuti workshop tari Jawa yang digelar secara gratis tersebut. Salah seorang pemateri yang juga pendiri Sanggar Prigel, Melania Sinaring…

  • Penggemar K-pop Tantang HYBE Pimpin Tranformasi Industri K-pop Ramah Lingkungan

    Penggemar K-pop global menuntut HYBE, sebagai salah satu perusahaan hiburan besar Korea Selatan sekaligus agensi bintang K-pop global BTS, untuk memimpin perubahan di industri K-pop menjadi lebih ramah lingkungan. Utamanya, HYBE dan perusahaan hiburan lainnya harus mengakhiri praktik penjualan album fisik secara besar-besar yang berdampak pada menggunungnya sampah plastik. Tuntutan ini disampaikan dalam aksi damai…

  • | | |

    Spesial, Pertama Kalinya Peringatan Perjanjian Giyanti Diikuti Kraton Ngayogyakarta

    Peringatan Perjanjian Giyanti ke-266 tahun yang digelar Sabtu (13/2/2021) di Kerten, Jantiharjo, Karanganyar, Karanganyar, Jawa Tengah berlangsung khidmat. Peringatan kali ini menjadi spesial karena untuk pertama kalinya diikuti Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebanyak 50 orang peserta dengan tetap menerapkan protokol kesehatan hadir di situs Perjanjian Giyanti, tempat dilakukannya kesepakatan antara Pangeran…