Cerita Seram di Warung Bakso
Dua hari yang lalu, tepatnya sekitar pukul 5 sore, saya diajak istri yang kelaparan hebat untuk singgah di warung terdekat yang dapat memberikan pertolongan darurat sebelum nanti di rumah akan menyantap makanan berat.
Pilihan pun dijatuhkan berdasarkan panduan navigasi Google yang menyarankan untuk melakukan pendaratan darurat di sebuah tempat bernama CAB, alias Cuanki Aseli Bandung.
Tempatnya tersembunyi di tengah-tengah kompleks perumahan Angkatan Darat, dan di ujung jalan yang tertutup beberapa tajuk pohon rindang. Ketika kami masuk hanya ada beberapa meja dan bangku yang terisi.
Satu meja di dekat kami dihuni oleh dua emak-emak modis nan gaul yang mungkin berlatar akademisi. Dari isi celotehannya yang membahana ke seisi ruang karena berintensitas cukup tinggi, maklum mungkin karena ingin menyampaikan hal yang penting sekali.
Sebagai gambaran, intensitas suara manusia saat berbicara secara normal itu diperkirakan antara 55 dan 65 desibel (dB). Sedangkan intensitas suara yang aman bagi telinga manusia adalah 30–50 dB, seperti suara orang yang sedang bercakap-cakap.
Sistem pendengaran dan telinga akan terasa sakit jika mendengar suara >90 dB.
Bahkan intensitas suara yang lebih keras dari 100 dB dianggap sangat keras dan berbahaya bagi pendengaran manusia. Telinga manusia hanya bisa bertahan dengan suara yang melebihi 100 desibel selama 5 menit dan tidak lebih dari itu.
Dapat disimak dari hasil penelitian terkait intensitas suara data berikut, dimana diam total dj keheningan itu setara dengan 0 dB, bisikan yang bukan bisik-bisik tetangga itu 15 dB, suasana damai perpustakaan TelU yang super canggih itu 45 dB, mendengar Pak Lek Doktor Catur memberi kuliah dan berdiskusi di FKB Telkom University itu setara 60 dB, mendengar Pak Rana Akbari membilas toilet dengab alat flushing itu 75-85 dB, suasana kedai kopi 372 yang dipenuhi mahasiswa itu setara 90 dB.
Ramainya gang antar bangsal di Rumah Sakit Hasan Sadikin saat jam bezoek itu bisa sampai 100 dB, mirip dengan suasana pasar Johar Semarang di pagi hari yang sibuk.
Bayi Pak Duddy dan Ibu Nita yang menangis menjerit karena kelaparan dan memohon ASI bisa mencapai 110 dB.
Nah kalau Mas Muhammad Fikri, seorang trainer kondang yang kerjaannya wara-wiri ke berbagai pelosok negeri, mendengar auman jet Lion Air di apron bandara Ahmad Yani, itu setara dengan 120 dB.
Begitu Mas Fikri usai ambil bagasi dan dijemput panitia dengan Toyota Alphard keluaran terbaru, serta diantar ke hotel Aston yang berbintang 4 plus. Suasana mobil mewah dan kamar hotel nan megah itu setara dengan 40 dB yang mungkin datang dari suara TV dan dengung AC yang lembut.
Lalu sambil menikmati aroma petrichor yang menenangkan saat hujan pertama datang, Mas Fikri juga menikmati suara rintik da gemercik curah hujan di taman Zen rooftop hotel yang setara dengan intensitas sekitar 50 dB.
Pada umumnya sistem pendengaran dan telinga manusia normal mampu mendengar bunyi yang memiliki rentang frekuensi dari 20 sampai 20.000 Hz. Sedangkan menurut tingkat kekerasan suara, intensitas yang bisa didengar manusia adalah 0 sampai 140 dB. Selengkapnya silahkan bertanya dan berkonsultasi dengan dokter spesialis THT terkemuka tanah air ya, salah satunya adalah dr Yanuar Iman Santosa, SpTHT-KL, MKes dari RS Dr Karyadi/FK-Undip.
Pembicaraan di meja sebelah itu sebenarnya agak mempengaruhi aroma dan rasa hidangan yang tengah saya santap. Mengapa? Karena sepiring nasi pulen plus ayam goreng dan sambal manis yang lebih saya pilih daripada cuanki yang menjadi andalan warung ini, jadi bercampur dengan frekuensi berintensitas tinggi dari meja sebelah. Rasa paha ayam plus tepong goreng nya seolah bercampur dengan scopus, post doc, dan soal Pak Dekan yang cunihin.
Saling sengkarut dan saling silang syaraf sensoris memang jamak dan bahkan merupakan kelebihan manusia dalam mengonstruksi asosiasi inderawi terhadap stimulus dan sensasi yang datang dalam berbagai bentuk serta model informasi.
Jika datangnya bersamaan dan diasosiasikan serta menghasilkan makna yang saling tumpang tindih, maka jamak pula jika setiap sensasi dapat saling mempengaruhi. Bahkan ada suatu kondisi unik terkait dengan jalur pengolahan sensasi ini yang dikenal sebagai sinestesia.
Sinestesia adalah kondisi neurologis yang menyebabkan persilangan sensorik, seperti merasakan warna atau melihat suara. Ini terjadi ketika rangsangan pada satu indera atau aliran persepsi menghasilkan pengalaman subjektif dari aliran persepsi yang berbeda.
Istilah sinestesia sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno sýn, yang berarti “bersama”, dan aisthēsis, yang berarti “rasa” atau “sensasi”. Alias rasa bersama yang dimaknai oleh lebih dari satu area asosiasi indera.
Catatan medis pertama tentang sinestesia dibuat oleh seorang dokter Jerman bernama Georg Tobias Ludwig Sachs pada tahun 1812. Dimana menurut pengamatan beliau, respons yang paling umum dari orang dengan sinestesia adalah mampu merasakan hal seperti huruf, angka, atau suara sebagai warna. Ketika mendengarkan suara apapun, seperti lagu, seakan memiliki bentuk ataupun pola dalam berbagai spektrum warna.
Tak terasa adzan Maghrib pun berkumandang dan saya bergegas hendak membayar makanan karena waktu beribadah telah tiba. Saat tengah menunggu Mas kasir menyelesaikan perhitungan total tagihan, tiba-tiba ada sesosok bayangan seram menyeruak dari sisi sebelah kiri, dengan jeritan berintensitas tinggi… “heh yang saya berapa? ”
Mas Kasir melotot terpana seolah tak percaya, dan saya pun dengan amat memalukan mengalami sindroma mulut menganga,… “how come…” kata saya lirih karena masih tak percaya.
Seseorang yang tadi asyik masyuk bercerita tentang post doc dan seluk beluk per scopus annya, tetiba di saat melihat antrian, bisa dengan suara lantang dan wajah garang tega melibas seorang pria pemalu yang kerap malu-maluin ini di depan kasir. Persis seperti peristiwa di sirkuit La Catalunya, di saat Pedrosa menyalip Valentino Rossi di tikungan terakhir dan merebut podium utama dari sang Juara.
Saya dan Mas Kasir hanya bisa terpana, dan Mas Kasir berkata… “nganti itu ciri orang berbudaya”. Tampaknya Mas Kasir ini mahasiswa jurusan humaniora atau filsafat ya.
Hasilnya? Sang Ibu perlente tadi matanya membulat dan pupilnya menyempit, persis seperti kucing yang sedang menatap mangsanya. Dan kami berdua, saya dan Mas Kasir, tak ubahnya seperti 2 tikus bersaudara yang menggigil ketakutan di bawah tatapan matanya.
Sungguh pengalaman traumatis dan amat mengerikan. Mengapa? Karena pernahkah anda bayangkan jika generasi penerus kita meneladani dan diajari oleh sosok seperti itu? Ibu adalah pendidik alami yang pertama, madrasatul ula, segenap tindak tanduknya serta ucapannya akan menjadi template bagi seorang anak. Baik secara epigenetik maupun secara sosiokultural dan pedagogik.
Bangsa yang punya empati dan dapat saling menghargai dalam sebentuk toleransi yang memberi ruang pada hak dan eksistensi sesama, dimulai dari proses pendidikan pertama. Termasuk tentu saja kompetisi yang bermuara pada lahirnya kreativitas dan inovasi yang menjadi solusi multi dimensi, dapat diawali oleh sifat peduli dan kemampuan untuk mengonstruksi kesadaran akan esensi dari eksistensi diri.
Alangkah indahnya jika energi fitriah seorang Ibu yang secara naluriah akan menghadirkan sikap protektif terhadap wilayah privat dan personal terkait dengan perlindungan terhadap keluarganya itu disalurkan menjadi energi katalis yang mampu menumbuhkembangkan bibit-bibit kesadaran yang akan menumbuhkan pokok-pokok kearifan yang berakar pada lahan gembur yang kaya akan unsur hara nilai-nilai kehidupan, sekaligus dapat menembus lapisan batuan padas dengan cara dan strategi cerdas.
Karena hidup tak dapat dipungkiri, sebagian fragmennya akan berlangsung keras dan terkadang ada situasi yang dipantik oleh berbagai perbuatan culas. Maka teladan ibu yang garang dan ulet setegar karang, adalah panduan yang baik jika selaras dengan harmoni kepedulian dan kemampuan untuk mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dalam koridor-koridor kebaikan kemanusiaan bukan? 🙏🏾


