Fertile Crescent dan Laut Kaspia
Gegara tadi pagi menulis tentang sejarah geologi kepulauan Nusantara sampai terbentuknya zona biogeografi yang dibatasi garis Wallacea dan Weber, sore ini pikiran saya jadi melanglang buana dan mengingat petualangan-petualangan saya bersama Ayahanda tercinta. Sebagai seorang anak kecil di jamannya saya telah banyak mengikuti petualangan Ayah di benua biru Eropa dan juga boleh dikata “separuh dunia”.
5 benua sudah saya khatamkan, sebagian besar karena ikut Ayah. Sebagian lainnya karena setelah dewasa ternyata saya juga berkesempatan bertugas ke tempat-tempat eksotis yang tersebar di berbagai pelosok dunia.
Di setiap perjalanannya selalu ada kisah yang menarik dan unik. Mungkin karena perjalanan, bukanlah semata penjelajahan indera saja, melainkan juga melibatkan segenap sensasi rasa dan segenap perangkai makna. Dan salah satu perjalanan yang menurut saya sangat berkesan adalah perjalanan ke area yang disebut fertile crescent, daerah yang kerap dianggap sebagai area cikal bakal lahirnya peradaban manusia.
Perjalanan itu sudah berlangsung cukup lama, mungkin sekitar 20 tahun yang lalu. Perjalanan itu menjadi begitu menarik karena memang menelusuri beberapa situs yang dari segi usia arkeologis sudah sangat tua. Selain itu dalam perjalanan pada kesempatan kali itu turut pula paman saya, Anshori Djausal, yang telah didaulat Ayah saya sebagai Suhu bagi saya sejak saya kecil.
Om Anshori adalah manusia unik serba bisa. Multi talenta dengan ide-ide di luar nalar manusia biasa. Insinyur sipil dari ITB ini, selain punya banyak inovasi di bidang rekayasa konstruksi, khususnya di teknologi ferrocement, juga ahli dalam hal layang-layang, mancing, kupu-kupu, konservasi sumber daya alam, pencetus “jalan/terowongan gajah” di tol Sumatera, sampai ahli budaya Lampung, selain juga turut sebagai pencetus jaringan internet kampus ASIA Net, dan masih banyak kabisa beliau yang lain.
Saya ingat betul, di masa saya masih tinggal di Sulawesi Utara, beliau pernah menghadiahi saya sebuah buku tentang Tank dan kendaraan tempur Perang Dunia ke II. Gara-gara buku itu sampai hari ini, sekitar 45 tahun kemudian, saya masih hafal spesifikasi tank seperti keluarga tank Tiger milik Nazi Jerman seperti Königstiger, sampai T-60 milik Tentara Merah Uni Soviet, juga panser legendaris Saladin milik Inggris.
Asyiknya bertualang bersama Om Anshori adalah tukar pikiran dan pengetahuan pasti berjalan seru di saat kami menjelajahi suatu situs. Misal saat kami memulai perjalanan dengan mengunjungi citadel di Amman Yordania setelah malamnya kami beristirahat di sebuah hotel dekat bandara Queen Alia,
Citadel Amman dibangun pada sekitar tahun ke 2 Masehi, bersamaan dengan kuil Heracles dan amphitheater.
di situs itu diskusi soal peradaban Bizantium terus berlangsung dengan hangat, hingga beberapa pengunjung lain dari Eropa tampak ikut “mencuri-curi” dengar. Beberapa pemandu wisata (tour guide) juga kedapatan ikut asyik menyimak penjelasan Om Anshori.
Petualangan di area tersebut berlanjut ke Hebron, Yerusalem, Betlehem, Jericho, dan beberapa situs tua lainnya. Uniknya saya baru menyadari kemudian bahwa berbagai situs itu terletak di wilayah fertile crescent. Area yang diduga oleh para arkeolog adalah titik awal lahirnya peradaban manusia modern.
Fertile Crescent (Bulan Sabit Subur) adalah istilah untuk sebuah wilayah di Timur Tengah yang membentang dari Lembah Sungai Nil di Mesir, Levant (Suriah, Lebanon, Israel/Palestina, dan Yordania), hingga ke Mesopotamia (Irak dan Iran bagian barat). Wilayah ini sering disebut sebagai “tempat lahirnya peradaban” karena di sanalah manusia pertama kali mengembangkan pertanian, peternakan, dan kehidupan menetap secara signifikan pada milenium ke-8 SM hingga ke-6 SM.
Sementara itu, kawasan di sekitar Laut Kaspia, daerah yang sangat sukai karena eksotika alam dan budayanya, yang meliputi wilayah Azerbaijan, Iran utara, Rusia selatan, dan beberapa negara Asia Tengah, juga menyimpan jejak-jejak peradaban kuno yang berkembang secara paralel dan saling mempengaruhi.
Perjalanan saya lewat pintu gerbang Yordania bersama Om Anshori Djausal, kelak sekitar 18 tahun kemudian, terlengkapi puzzlenya saat saya menjelajahi jalur Sutra dari arah Asia Tengah.
Salah satu pencapaian terbesar cikal bakal peradaban manusia di fertile crescent adalah domestikasi tanaman dan hewan. Melalui data arkeologi di situs-situs Neolitik seperti Jericho (di Tepi Barat) dan Çatalhöyük (di Turki bagian selatan), kita dapat menelusuri jejak pertama kali manusia menanam gandum, jelai, kacang polong, serta mendomestikasi kambing dan domba sekitar 8000–6000 SM (Renfrew, 1972; Mellaart, 1975).
Di Jericho misalnya, terdapat penggalian di Tell es-Sultan yang menunjukkan adanya dinding pertahanan kuno, sistem penyimpanan bahan pangan, dan bukti domestikasi tanaman. Sementara di Çatalhöyük, terdapat bukti kehidupan urban awal, termasuk struktur rumah yang saling menempel, hiasan dinding, serta praktik ritual yang menunjukkan perkembangan sosial-budaya yang kompleks.
Di wilayah Mesopotamia, aliran Sungai Efrat dan Tigris memungkinkan munculnya beberapa kerajaan dan negara-kota paling awal di dunia, seperti Sumeria, Akkadia, Babilonia, dan Asyur (Postgate, 1994). Dimana Uruk (kini Warka, Irak), dianggap sebagai salah satu kota tertua di dunia, dan memiliki ziggurat (bangunan berbentuk teras piramida) dan bukti penggunaan tulisan paku (cuneiform).
Kota tua lain, bukti telah hadirnya peradaban di zaman yang masih sangat awal adalah Ur. Tempat ditemukannya makam raja-raja Sumeria, lengkap dengan artefak perhiasan emas, perkakas, dan benda-benda ritual yang menunjukkan perkembangan organisasi sosial berstrata.
Kemudian ada kota Niniveh (di utara Mesopotamia) yang pada masa Kekaisaran Asyur, dikenal memiliki perpustakaan yang luas, menampung ribuan lempengan tulisan paku tentang ilmu pengetahuan, agama, dan kesusasteraan kuno.
Bukti-bukti keberadaan peradaban di kota-kota tua fertile crescent antara lain ditunjukkan oleh adanya jaringan irigasi yang kompleks, penemuan roda, serta berkembangnya sistem pemerintahan monarki dan birokrasi di wilayah ini menunjukkan tingkat kemajuan tinggi (Michalowski, 2011).
Sistem irigasi memungkinkan intensifikasi pertanian dan surplus pangan, yang mendorong pertumbuhan penduduk dan pembagian kerja. Sedangkan ulisan paku (cuneiform) pada periode Sumeria yang telah berkembang menjadi alat pencatatan administratif, hukum, dan sastra, menunjukkan kemajuan institusi negara-kota dan telah telah dikenalnya literasi serta model komunikasi literal yang bersifat non verbal, atau sintesa dari semua model komunikasi yang saat itu ada.
18 tahun kemudian saya yang jatuh cinta pada silk Road menemukan sisi-sisi lain dari sekedar eksotika geografis dan artefak budaya yang memang mempesona. Ada cerita tersembunyi di area laut Kaspia. Laut yang bukan laut, dan ternyata berhubungan erat dengan kisah Samudera Thetys yang saya tulis dalam tulisan sebelum ini.
Laut Kaspia yang sesungguhnya adalah sebuah danau raksasa, merupakan sisa dari Laut Paratethys Kuno yang merupakan bagian dari Samudera Tethys. Di mana samudera Tethys sendiri terhubung ke Atlantik dan Pasifik sekitar 50-60 juta tahun yang lalu. Pergeseran platform benua menyebabkan Samudera Tethys kehilangan koneksi dengan Atlantik dan Pasifik.
Lalu terbentuklah Laut Kaspia sekitar 30 juta tahun yang lalu. Laut Kaspia terkurung daratan sekitar 5,5 juta tahun yang lalu akibat pergerakan lempeng tektonik dan penurunan muka air laut. Laut Kaspia disebut juga Samudra Hyrcania, Laut Mazandaran, Laut Khazar, dan Laut Khvalissian.
Nama Kaspia sendiri berasal dari suku Caspi, penduduk asli wilayah Transkaukasia pada abad ke-6 SM. Laut Kaspia memiliki luas sekitar 390.000 kilometer persegi dan volume rata-rata 78.000 kilometer kubik. Laut Kaspia terletak di tengah daratan Asia Barat dan Asia Tengah dan tidak terhubung ke lautan luas. Laut Kaspia merupakan danau endorheik yang sangat unik, juga sensitif terhadap perubahan iklim global dan regional.
Posisi Laut Kaspia yang strategis menjadikannya persimpangan jalur perdagangan utama antara Asia Tengah, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Data arkeologis menunjukkan sirkulasi komoditas seperti logam, tekstil, serta hasil pertanian. Bukti penguburan dan ritual keagamaan yang ditemukan di beberapa situs (misalnya pemakaman berisi benda perunggu di wilayah Derbent, Rusia selatan) menegaskan interaksi lintas-budaya (Kohl, 2007).
Meskipun fertile crescent kerap dipandang sebagai pusat munculnya peradaban, bukti arkeologis menunjukkan bahwa peradaban di sekitar Laut Kaspia juga berkembang sejajar dan saling bertukar informasi dengan peradaban di Mesopotamia dan sekitarnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa kontak melalui rute perdagangan darat dan maritim memengaruhi penyebaran teknologi pertanian, seni keramik, dan pengetahuan metalurgi (Frangipane, 2015).
Wilayah Laut Kaspia mencakup bagian utara Iran, Azerbaijan, Rusia selatan, Kazakhstan barat, dan Turkmenistan. Meskipun belum sebeken fertile crescent, penelitian arkeologi di kawasan ini menunjukkan adanya aktivitas manusia yang beragam, termasuk migrasi budaya dan perkembangan ekonomi yang dipengaruhi oleh jalur perdagangan Eurasia.
Salah satu situs kebudayaan tua yang penting di kawasan Laut Kaspia ialah Kura-Araxes, yang berasal dari kawasan Transkaukasia (Armenia, Georgia, Azerbaijan) dan meluas hingga ke Iran utara (Smith, 2005). Peninggalan peradaban kunonya meliputi permukiman berbentuk desa-desa yang memiliki fondasi batu dan dinding dari bahan kayu atau lumpur. Ada pula temuan berupa tembikar hitam-merah yang khas, menjadi indikator perdagangan antardaerah. Serta ada bukti arkeologis terkait pemanfaatan logam (tembaga dan perunggu awal) serta pengenalan teknik-teknik metalurgi sederhana.
Ada pula situs gua Ali Tappeh (Iran utara) yang artefak arkeologisnya dapat mengungkap budaya Zaman Batu yang berkembang di kawasan pesisir selatan Laut Kaspia. Penelitian stratigrafi membuktikan adanya lapisan hunian manusia dari periode Paleolitik hingga Neolitik (Mousavi & Mashkour, 2016).
Selain kedua situs di atas ada juga situs Gobustan di Azerbaijan. Dimana di situs ini tersimpan lebih dari 6.000 petroglif (ukiran batu) yang menggambarkan kegiatan berburu, ritual, serta fauna setempat. Gobustan diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO (UNESCO World Heritage Centre, 2007).
Betapa pentingnya kawasan Laut Kaspia dan fertile crescent, betapa besarnya pula kontribusi kawasan itu bagi perkembangan teknologi saat ini yang mulai didominasi peran AI atau akal imitasi. Mengapa? Karena konsep angka 0 dan sistem binari pun lahir di kawasan itu.
Sejarah angka 0 mencatat bahwa bangsa Sumeria sudah memperkenalkan konsep angka 0 sejak 5000 tahun yang lalu. Mereka menulis angka 0 dengan dua garis miring (“//”) untuk menandai angka-angka seperti 10, 100, atau 2024.
Lalu bangsa Babilonia yang tinggal di Lembah Mesopotamia (salah satu kawasan di fertile crescent atau hilal subur) mulai menggunakan angka 0 sekitar tahun 300 SM. Mereka menggunakan dua garis miring untuk mewakili kolom nomor yang kosong.
Agak di luar kawasan, bangsa Maya di Benua Amerika juga mengembangkan angka 0 untuk sistem perhitungan kalender mereka sekitar tahun 4 M. Lalu lahirlah Brahmagupta yang merupakan salah satu ahli matematika yang berperan besar dalam mengembangkan angka 0.
Cendekia matematika asal Bhinmal Gujarat ini adalah ilmuwan yang mendefinisikan arti dan fungsi 0 sebagaimana yang kita kenal saat ini. Dari terobosan Brahmagupta itu pulalah Khawarizmi yang dilahirkan di salah satu kecil di Jalur Sutra yang kini bernama Khiva, memperkenalkan konsep angka 0 ke dunia matematika yang kemudian melahirkan aljabar, aritmetika, kalkulus, dan juga algoritma.
Maka mengacu kepada penjelasan Om Anshori Djausal, insinyur sipil jebolan ITB itu, wilayah hilal subur dan zona Laut Kaspia serta jalur sutra, adalah area ideal yang dibutuhkan manusia untuk mengoptimasi kapasitas akal budinya. Lalu akal budi, akal imajinasi atau akal prokreasi, dan akal imitasi pada gilirannya membawa peradaban manusia memasuki era post-human dan trans-human, dimana teknologi telah menjadi bagian integral dari kapasitas dan kompetensi manusia itu sendiri.
🙏🏾🙏🏾🙏🏾
Daftar Pustaka
Frangipane, M. (2015). Different types of multiethnic societies and different patterns of development and change in the prehistoric Near East. Proceedings of the National Academy of Sciences, 112(30), 9182–9189.
Kohl, P. L. (2007). The Making of Bronze Age Eurasia. Cambridge University Press.
Mellaart, J. (1975). The Neolithic of the Near East. Scribner.
Michalowski, P. (2011). The Correspondence of the Kings of Ur: An Epistolary History of an Ancient Mesopotamian Kingdom. Eisenbrauns.
Mousavi, M., & Mashkour, M. (2016). Archaeological Research in Gilan and Mazandaran (Northern Iran). Iranian Studies, 49(4), 551–569.
Postgate, J. N. (1994). Early Mesopotamia: Society and Economy at the Dawn of History. Routledge.
Renfrew, C. (1972). The Emergence of Civilisation. Methuen & Co Ltd.
Smith, A. T. (2005). Prometheus Unbound: Southern Caucasia in Prehistory. Journal of World Prehistory, 19(4), 229–279.
UNESCO World Heritage Centre. (2007). Gobustan Rock Art Cultural Landscape. whc.unesco.org


