Tak Abaikan Pendidikan, Tiga Atlet Akuatik Yogyakarta Raih Beasiswa di Luar Negeri

Tak Abaikan Pendidikan, Tiga Atlet Akuatik Yogyakarta Raih Beasiswa di Luar Negeri

Tiga atlet akuatik asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yakni Nabilah Marwa Khairunnisa Umarella, Aurelia Kartika Dharma, dan Gabriella Gwen Lambert menorehkan prestasi membanggakan. Mereka berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di perguruan tinggi di luar negeri.

Nabilah mendapat beasiswa kuliah di University of British Columbia, Kanada. Ia mengambil jurusan Psychology (Psikologi). Sementara, Aurelia memilih kuliah di Wageningen University, Belanda. Ia mengambil program studi Food Technology atau Teknologi Pangan. Adapun Gabriella Gwen mengambil jurusan Linguistik (Linguistics) di University of Massachusetts, Amherst, Amerika Serikat.

Ketiganya mendapat beasiswa Indonesia Maju dengan menempuh pendidikan tinggi di universitas berbeda. Namun, mereka menerima beasiswa penuh atau fully funded. Artinya tidak hanya biaya pendidikan tetapi juga biaya hidup di negara tersebut.

Keberhasilan mereka mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri diharapkan bisa menginspirasi atlet muda lain. Pesan yang ingin disampaikan yakni meskipun menekuni olahraga akuatik atau cabang lain, atlet tetap memiliki kesempatan meraih prestasi di pendidikan formal. Mereka juga menunjukkan atlet itu bukan pemalas tetapi memiliki disiplin tinggi, sportif dan bersemangat tinggi mencapai target.

Bahkan Gwen dkk mendapat beasiswa dari sejumlah universitas di luar dan dalam negeri sehingga harus memilih yang sesuai dengan passion mereka.

Aurel mengayakan setelah menerima beasiswa kuliah di luar negeri, ia berharap bisa menginspirasi atlet lain untuk meraih pendidikan setinggi mungkin. Ia pun bertekad untuk tetap berlatih.

“Meski menekuni olahraga, atlet pun tak perlu meninggalkan sekolah. Saat kuliah, saya tetap akan berlatih renang. Saya juga ingin mengembangkan pengetahuan dengan mencoba melatih klub,” kata dia.

Gwen menyampaikan hal senada. Ia juga ingin menghilangkan stigma kalau atlet itu bodoh atau malas. “Saya sudah sering mendengar kata-kata seperti itu. Saya juga berencana tetap menekuni renang dan ingin berkompetisi antaruniversitas,” ucap Gwen.

Apalagi informasi yang diterimanya, kampus di AS kerap menggelar kejuaraan olahraga, termasuk akuatik.

Beasiswa bergengsi ini sekaligus menghapus stigma negatif seputar kemampuan akademik seorang atlet. Hal ini juga membuktikan seorang atlet tetap bisa moncer di dunia pendidikan meskipun juga menekuni cabang olahraga. Atlet pun tak serta merta mengabaikan pendidikannya.

Namun, hal hal ini harus diikuti kedisiplinan dan komitmen yang tinggi. Misalnya saja Nabilah. Atlet yang akrab disapa Lala ini harus bisa membagi waktu antara belajar dan menjalani latihan atau bertanding. Saat berlomba di sebuah kejuaraan internasional renang artistik di Toronto, Kanada, ia bahkan hanya beristirahat beberapa jam karena sudah harus mengikuti pelajaran atau pertemuan secara daring.

Rosa Palmastuti yang mendampingi Nabilah sata berlomba di Toronto mengatakan, setelah lomba, Lala hanya punya waktu sekitar dua jam karena harus mengikuti zoom. “Usai zoom, dia kembai beristirahat beberapa jam dan kemudian kembali berlomba,” kata Rosa.

Tak Abaikan Pendidikan, Tiga Atlet Akuatik Yogyakarta Raih Beasiswa di Luar NegeriTak Abaikan Pendidikan, Tiga Atlet Akuatik Yogyakarta Raih Beasiswa di Luar NegeriHal iki tentu hanya bisa dilakukan atlet yang memiiki disiplin tinggu, kemauan keras, dan pola pikir bahwa renang itu tidak untuk menang. Ada tujuan yang sesungguhnya yaitu memenangkan kehidupan masing-masing.

Sementara itu, Owner Team JAQ, Boyke Dharma menuturkan klub berusaha menyeimbangkan antara prestasi akuatik dan akademik. Atlet yang menekuni olahraga akuatik dan menuai prestasi diharapkan tidak mengabaikan akademik mereka.

“Karier atlet itu pendek. Jadi atlet harus mempersiapkan masa depan saat dirinya pensiun. Mereka juga harus meraih prestasi di akademik. Ini mengubah stigma atlet hanya mengejar medali dan juara,” kata Boyke.

Pihaknya juga mengedepankan akademik. Pihaknya mengubah mindset dan mendorong atlet untuk mendapatkan kesempatan belajar sampai perguruan tinggi, termasuk kuliah di luar negeri.

Boyke menaruh harapan tidak hanya tiga atlet itu yang mendapat beasiswa. “Artinya ada generasi berikutnya yang juga mendapatkan beasiswa atau meneruskan sekolah sampai perguruan tinggi,” kata dia.

Kamu suka? Yuk bagikan tulisan ini.

Similar Posts

  • |

    Yuk, Kenalan dengan Felicia de Zeeuw! Gelandang Serang Baru Garuda Pertiwi

    Jakarta – Timnas putri Indonesia mendapatkan gelandang serang baru, bernama Felicia de Zeeuw. Pemain ADO Den Haag ini baru saja mengambil sumpah dan janji pewarganegaraan di Kantor Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, Jakarta Selatan, Selasa (10/6). Felicia de Zeeuw lahir di Delft, Belanda pada 19 Januari 2006. Ia memiliki garis keturunan Indonesia dari neneknya yang…

  • |

    Ganjar Pranowo Ikut Jadi Pelari di UGM ITR 2022

    Gubernur Jawa Tengah sekaligus Ketua Umum Alumni Universitas Gadjah Mada, Ganjar Pranowo, ikut memeriahkan kegiatan lomba lari Universitas Gadjah Mada International Trail Run (UGM ITR) 2022 di hutan Wanagama, Gunungkidul, Yogyakarta, Minggu (16/10). Lebih dari 800 pelari yang ikut ambil bagian dalam kegiatan lari lintas alam yang diselenggarakan oleh Panitia Dies UGM ke-73 dan Kagama…

  • Didampingi Legenda, Sabar/Reza Tak Sabar Jalani Debut

    Ganda putra peringkat delapan dunia (per 11 Maret 2025), Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani tidak sabar melakoni debut di ajang All England 2025. Sabar/Reza yang penampilannya ciamik sepanjang tahun lalu membidik hasil bagus, oleh karenanya mereka melakukan persiapan yang terbilang cukup istimewa. Salah satunya dengan menggandeng legenda bulutangkis Indonesia, Hendra Setiawan sebagai pelatih. “Pastinya…

  • |

    Indonesia Climbing Gathering

    Indonesia Climbing Gathering adalah event yang rutin digelar sekali dalam setahun oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) dan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta di tebing Pantai Siung, Yogyakarta. Lebih dari sekedar lomba dan merebut hadiah uang puluhan juta rupiah, event ini merupakan ajang berkumpul para pemanjat dari berbagai penjuru tanah air dengan masyarakat yang tinggal…

  • |

    Speed WR Kids Youth C dan D Tampilkan Bakat-Bakat Muda di Hari Kedua Sport Climbing Open Youth Menpora Cup 2024

    Pertandingan babak final untuk disiplin speed WR kids digelar pada malam hari, di hari kedua Kejuaraan Panjat Tebing Sport Climbing Open Youth Menpora Cup 2024, Minggu (3/11). Nomor ini menampilkan semangat dan ketangkasan para atlet muda dari berbagai kelompok umur yang berjuang memberikan performa terbaik. Di kelompok umur Youth C Putra, Muhammad Backhir Nur Faatir…

  • 13 Atlet DIY Berebut Medali di PON Aceh-Sumut

    Banda Aceh – Sebanyak 13 atlet panjat tebing Daerah Istimewa Yogyakarta berjuang keras untuk merebut medali dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut. Perjuangan mereka dimulai dengan nomor combine yang digelar Kamis (5/9) di venue panjat tebing kompleks stadion Harapan Bangsa, Aceh. Terdiri dari enam atlet putra dan tujuh atlet putri, 13 atlet ini…