| |

Tradisi Unik Labuhan Merapi

Labuhan Merapi adalah tradisi Keraton Jogjakarta yang digelar sekali setiap tahun bertepatan dengan peringatan naik tahta Raja. Tradisi ini berakar dari mitologi awal berdirinya Keraton Jogjakarta yang dibantu oleh Eyang Sapu Jagad di Gunung Merapi dan Ratu Kidul di Pantai Selatan. Karena Eyang Sapu Jagad diidentifikasi sebagai laki-laki, maka barang-barang atau ubo rampe yang dilabuh juga merupakan perlengkapan keseharian laki-laki. Mulai dari selendang atau jarik hingga ses wangen atau rokok.

Beratus tahun tradisi ini terus bertahan karena Keraton dan warga Jogja meyakini kehidupan sosial politik mereka tidak bisa dipisahkan dengan gunung api teraktif di dunia ini. Sehingga, Labuhan Merapi juga dimaknai sebagai upaya menjaga harmoni.

Kamu suka? Yuk bagikan tulisan ini.

Similar Posts

  • | |

    Bola Voli | Jual Beli Smash Fachry vs Kaula

    Meski dianggap sebagai final kepagian, namun pertandingan antara ASPRO melawan SRI MUKTI 118 dalam Turnamen Bola Voli Mahameru Cup V menyuguhkan jual beli spike antara dua bintangnya yakni Kaula Nurhidayat dengan Fachry Septiawan. Monggo… Kamu suka? Yuk bagikan tulisan ini.

  • | |

    Asal-usul Garebeg Kraton Yogyakarta

    Garebeg Kraton Yogyakarta ternyata bukanlah bermakna berebut gunungan seperti yang terjadi sekarang. Garebeg merupakan merupakan gambaran bagaimana iring-iringan Sultan para kerabat, para punggawa dan prajurit kraton Yogyakarta dalam peringatan hari raya Idul Fitri, Idul Adha dan Maulud Nabi serupa angin kencang sehingga dalam bahasa Jawa terdengar “gemrebeg” di telinga. Dalam perjalananya, ketika jumlah gunungan sedikit…

  • | |

    Warga Bongkar Makam Untuk Bandara Baru Kulonprogo

    Rencana pemerintah membangun bandara baru di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta terus dikebut. Deadline agar bandara baru bisa berfungsi pada April 2019 membuat Angkasa Pura bergerak cepat. Pekan lalu, pengosongan lahan mulai dilakukan termasuk pembongkaran makam. Video ini merekam detik-detik pembongkaran makam di lahan yang bakal menjadi bandara New Yogyakarta International Airport Kamu suka? Yuk…

  • | | |

    Puisi “LEMBAYUNG DI TANAH KANDUNG”

    Dibacakan oleh siswa Sekolah Perdamaian asal Poso, Gunawan dan Fira Lembayung di Tanah Kandung bercerita tentang konflik yang tak kenal asal-usul. Tapi, tak adakah konlik yang tak selesai?! Gunawan dan Fira sukses membawa para penikmat sastra dalam Malam Sastra Lereng Merapi Membaca HB Jassin di Omah Petruk, Karangkletak, Pakem, Sleman, Jogjakarta menyusuri lorong-lorong kelam konflik….

  • | |

    Musikalisasi Puisi “DUKA PEWARTA”

    Adalah kabar duka yang membuat Thomas Pujo bersedih. Kabar tentang meninggalnya Yuyuk Sugarman, teman seprofesinya. Kabar inilah yang kemudian menggerakkan tangan Pak Pujo demikian ia biasa disapa, menuliskan bait-bait puisi. Romo Sindunata yang didaulat melepas jenazah pun membaca puisi karya Thomas Pujo ini di depan para pelayat. Dan, malamnya, dalam Sastra Bulan Puasa yang digelar…

  • | | |

    Sastra Bulan Puasa: Yuliono “AKU MENCINTAIMU SECARA ORGANIK”

    Aku Mencintaimu Secara Organik bukanlah merupakan judul asli karena Yuliono tidak memberi judul atas karya sastra yang kemudian ia nyanyikan dalam Sastra Bulan Puasa yang digelar di Omah Petruk, Pakem, Sleman, pada Minggu (18/6). Selain sebagai penulis puisi, Yuliono juga dikenal sebagai penyanyi spontan yang lucu. Tidak percaya? Simak saja video berikut ini… Kamu suka?…